Dinas PertanianMadinaProfesorProyek Pisang KepokTaufik Zulhandra RitongaUmaUniversitas Medan Area

Distan Madina dan UMA Siapkan Proyek Pengembangan Pisang Kepok yang Berkualitas

Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sedang merancang strategi untuk mengembalikan kejayaan pisang kepok, salah satu komoditas unggulan di daerah tersebut. Dengan potensi besar yang dimiliki, upaya ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pisang kepok yang dihasilkan oleh petani lokal, serta mendongkrak perekonomian masyarakat.

Kerja Sama Strategis antara Pemkab Madina dan UMA

Inisiatif ini ditandai dengan kolaborasi yang erat antara Dinas Pertanian Madina dan tim ahli dari Universitas Medan Area (UMA). Kolaborasi ini merupakan langkah strategis yang diambil untuk memastikan keberhasilan proyek pengembangan pisang kepok yang berkualitas.

Hasil dari pertemuan antara Bupati Madina, Saipullah Nasution, dan Wakil Bupati, Atika Azmi Utammi, pada tanggal 31 Januari 2026, memicu langkah konkret. Kepala Dinas Pertanian Madina, Taufik Zulhadra Ritonga, bersama Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Sahnan Pasaribu, melakukan kunjungan ke UMA pada 13 April 2026, untuk membahas langkah-langkah lebih lanjut.

Keberagaman Ilmu untuk Pengembangan yang Komprehensif

Dalam pertemuan tersebut, rombongan Pemkab Madina disambut oleh sejumlah profesor dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Prof. Zulkarnain Lubis, Prof. Suswati, Prof. Retna Astuti, Prof. Dadan Ramdan, dan Prof. Siti Mardiana. Interaksi ini diharapkan dapat menghasilkan berbagai solusi inovatif untuk pengembangan pisang kepok.

Taufik Zulhadra menjelaskan bahwa pengembangan pisang kepok kali ini lebih dari sekadar penanaman biasa. Program ini dirancang sebagai upaya komprehensif yang melibatkan seluruh aspek, dari hulu hingga hilir, untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan proyek ini.

Pendekatan Multi-Sektor untuk Meningkatkan Kualitas

“Transformasi ini akan dilakukan melalui pendekatan multi-sektor,” ungkap Taufik. “Di sektor hulu, kita akan fokus pada standarisasi pola tanam dan penerapan teknologi modern. Sementara itu, di sektor hilir, kita akan berupaya menciptakan nilai tambah dengan mengolah hasil panen menjadi produk-produk turunan.”

Rencana ini tidak hanya mencakup aspek produksi. Taufik menambahkan bahwa pengembangan lahan budidaya akan dijadikan sebagai destinasi wisata edukasi, yang diharapkan mampu memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat setempat. Dengan cara ini, masyarakat bisa lebih mengenal dan memahami proses budidaya pisang kepok secara langsung.

Langkah-Langkah Selanjutnya dalam Proyek

Dalam waktu dekat, tim ahli dari UMA direncanakan untuk melakukan peninjauan langsung pada lokasi Demplot (Demonstration Plot) yang berfokus pada pengembangan pisang kepok di Sipalangka, Madina. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa semua rencana dapat diimplementasikan dengan baik.

Taufik juga mengungkapkan bahwa penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkab Madina dan Universitas Medan Area akan segera dilaksanakan. MoU ini akan menjadi payung hukum untuk kolaborasi dalam riset dan pendampingan kepada petani dalam pengembangan pisang kepok.

Optimisme Terhadap Masa Depan Pisang Kepok di Madina

Dengan sejarah Madina yang pernah dikenal sebagai penghasil pisang kepok yang berkualitas dan didukung oleh iklim yang mendukung, Taufik Zulhadra optimis bahwa integrasi teknik budidaya yang tepat dan akses pasar yang lebih baik akan meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan.

“Kami berharap program ini tidak hanya menjadikan pisang kepok sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan di Mandailing Natal,” pungkasnya. Dengan semua langkah dan strategi yang telah direncanakan, diharapkan pisang kepok dapat kembali menjadi primadona dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Back to top button